DEMAK|LCKINEWS.com – Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, tengah bersiap menjadi contoh desa digital melalui penguatan kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam bidang pemasaran digital dan pengelolaan keuangan. Program pengabdian masyarakat dari Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat.
Program yang digagas oleh tim dosen lintas keahlian dari UPGRIS ini menggandeng pelaku UMKM di Batursari untuk mengoptimalkan potensi lokal melalui dua pendekatan utama: digital marketing dan literasi keuangan berbasis aplikasi.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah desa dan komunitas UMKM setempat, kegiatan ini dirancang untuk menciptakan transformasi berkelanjutan di tengah tantangan rendahnya daya saing produk lokal.
“Kami melihat bahwa produk-produk lokal Batursari seperti olahan makanan dan kerajinan tangan memiliki potensi besar, tetapi belum maksimal dalam menjangkau pasar yang lebih luas karena masih menggunakan metode pemasaran tradisional,” ujar Adelia Sandra Swastika Putri, S.Ak., M.M., ketua tim pelaksana pengabdian.
Melalui pelatihan pemasaran digital yang memanfaatkan platform seperti WhatsApp Business, Instagram, Shopee, dan Tokopedia, pelaku UMKM dilatih untuk mengelola akun bisnis, membuat konten promosi yang menarik menggunakan Canva, dan memahami strategi SEO untuk meningkatkan visibilitas produk secara online. Pelatihan ini disambut antusias oleh peserta. Banyak di antaranya yang langsung mempraktikkan pengetahuan baru dengan mengunggah produk ke media sosial dan marketplace.
Tak hanya itu, pelatihan pengelolaan keuangan turut menjadi sorotan.
Para peserta diperkenalkan pada aplikasi keuangan seperti Buku Kas dan Excel untuk mencatat pendapatan, pengeluaran, serta menyusun anggaran usaha. Hasilnya, pelaku UMKM kini mampu menyusun laporan keuangan sederhana yang membantu mereka mengambil keputusan bisnis secara lebih terstruktur dan rasional.
Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan semangat kewirausahaan baru di kalangan masyarakat desa. Beberapa peserta bahkan menyampaikan rencana untuk mengembangkan produk baru atau membuka usaha baru setelah mengikuti pelatihan.
Meski dihadapkan pada kendala seperti keterbatasan perangkat digital dan akses internet, semangat belajar masyarakat dan dukungan pemerintah desa berhasil menjembatani kesenjangan tersebut. Pendekatan partisipatif dan bimbingan intensif menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Transformasi digital tidak harus dimulai dari kota. Desa pun bisa, asal diberikan akses, pelatihan, dan pendampingan yang tepat,” tegas Adelia.
Melalui pengabdian ini, Desa Batursari menunjukkan bahwa dengan kolaborasi dan pemanfaatan teknologi yang tepat, masyarakat desa pun dapat tumbuh menjadi pelaku ekonomi yang tangguh dan mandiri.
Red. Farid Hidayatullah,SE













